• nuraini zakiyah

KEKUATAN LAUT SRIWIJAYA (ARMADA MARITIM NUSANTARA)


Sriwijaya berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, sejak abad ke-7 hingga awal abad ke-11 Masehi. Wilayah-wilayah strategis diduduki untuk menjaga dominasinya atas perdagangan laut di Selat Malaka, yaitu Bandar Malayu di Jambi, Kota Kapur di Pulau Bangka, Tarumanagara dan pelabuhan Sunda di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah, serta Kedah dan Chaiya di Semenanjung Melayu. Dalam catatan sejarah Champa disebutkan adanya serangkaian serbuan angkatan laut yang berasal dari Jawa terhadap beberapa pelabuhan di Champa dan Kamboja. Mungkin angkatan laut penyerbu yang dimaksud adalah armada Sriwijaya, karena saat itu Jawa, di bawah Dinasti Syailendra, adalah bagian dari mandala Sriwijaya. Dengan kiprahnya itu, Sriwijaya akhirnya menguasai urat nadi pelayaran antara Tiongkok dan India.


Menurut catatan sejarah Tiongkok, Hsin-tang-shu atau Sejarah Dinasti Sung, Sriwijaya kala itu sudah memiliki 14 kota dagang atau pelabuhan. Dan Palembang, sebagai pelabuhan utama di pusat kerajaan, adalah yang paling sibuk dan ramai. Catatan perjalanan pedagang Arab bernama Ibnu Faqih, tahun 902, menceritakan, “Kota Sribuza (Sriwijaya) dikunjungi oleh berbagai bangsa. Di pelabuhan Sribuza kita dapat mendengar berbagai bahasa, seperti Arab, Persia, Tiongkok, India, dan Yunani, di samping bahasa penduduk aslinya sendiri”.


Di tengah ramainya aktivitas perdagangan internasional saat itu, Sriwijaya tak ubahnya “gudang” penyimpanan barang dagangan dari seluruh wilayah Nusantara. Perekonomian Sriwijaya pun utamanya diperoleh dari komoditas ekspor. Beberapa komoditas yang diperdagangkan di Sriwijaya di antaranya cengkeh, pala, kapulaga, lada, pinang, kayu gaharu, kayu sapan, rempah-rempah, penyu, emas, perak, dan lada. Barang-barang ini oleh pedagang asing dibeli atau ditukar dengan porselen, kain katun, atau kain sutra. Khusus ke negeri Tiongkok, Sriwijaya mengekspor gading, air mawar, kemenyan, buah-buahan, gula putih, cincin kristal, gelas, kapur barus, batu karang, kapas, cula badak, wangi-wangian, bumbu masak, dan obat-obatan. Barang-barang tersebut, tidak semuanya berasal dari Sriwijaya, atau diproduksi di Sriwijaya sendiri. Beberapa di antaranya mungkin dari negara lain yang memiliki hubungan dagang dengan kerajaan.


Selain komoditas ekspor, perekonomian Sriwijaya juga ditopang oleh pengenaan bea cukai kapal-kapal asing yang singgah di beberapa pelabuhan milik kerajaan. Sriwijaya dapat menguasai perdagangan di Selat Malaka, karena didukung oleh armada yang kuat --dengan kemampuan pelaut-pelautnya yang tangguh. Pelabuhan-pelabuhan di sekitar Selat Malaka berhasil ditaklukkan. Setiap kapal asing yang memasuki wilayah perairan Sriwijaya, diharuskan mengganti kapalnya dengan milik kerajaan. Dan tentu saja, itu ada biayanya sendiri.


Sumber: Kemendikbud, Balitbang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional


Ilustrasi 1 Angkatan Laut Sriwijaya Menegakkan Persumpahan

Ilustrasi 2 Perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang

0 views0 comments