top of page
  • nuraini zakiyah

Aset Museum Sri Baduga

Updated: Jan 16


Arca Duga

Arca ini berdiri di atas kerbau, bertangan delapan, masing-masing memegang akra, kadga (pedang), busur dan anak panah, sangkha (siput) dan tangan lainnya memegang rambut Asura. Arca ini adalah “sakti” dewa Siwa dalam bentuk Ugra (menakutkan). Penggambaran tersebut sesuai dengan kitab Purana. Durga juga disebut Dewi Mahatajam yang memegang semua laksana para Dewa. Menurut mitologinya, Durga tercipta akibat kemarahan para Dewa. Durga dilukiskan sebagai Dewi yang cantik dan Asura manusia biasa.

Asal: Bandung

No.Invent.: 04.224



Arca Gagajahan

Digunakan untuk menyimpan sesajen atau pedupaan dalam upacara pada masa Hindu. Ditemukan di Desa Cimara, Kecaatan Cibingbin, Kuningan.




Bata Candi Karawang

Merupakan fragmen dari struktur bangunan Percandian Batujaya, Karawang. Batu yang digunakan sebagai bahan bangunan candi dibuat dari tanah liat yang diberi campuran (temper) kulit padi. Berdasarkan ciri-ciri yang tampak dari struktur bangunan dapat diketahui dengan jelas latar belakang keagamaan di kompleks percandian Batujaya yaitu agama Budha Mahayana berasal dari daerah India Utara, khususnya dari Nalanda.



Yantra

Sebagai salah satu media yang digunakan dalam upacara keagamaan terutama dipakai para pendeta Budha.

No. Invent.: 04.956-957

Asal: Bogor


Votif Tablet

Berbentuk empat persegi panjang terbuat dari tanah liat bakar. Sisi-sisi materai memilki bingkai dan pada bagian tengah terdapat relief Budha Amithaba dengan atau tanpa tulisan di bawahnya. Materai yang ditemukan rata-rata berukuran panjang 6 cm, lebar 4 cm, dan tebal 8 mm. Relief BUdha terdiri dari masing-masing tiga tokoh Budha. 3 tokoh pertama (bagian bawah), satu dalam posisi duduk dengan kedua kaki terjuntai dan sikap tangan Dhyanimudra serta diapit dua tokoh lainnya yang berdiri dalam sikap Tribhanga. Tiga tokoh kedua terletak di bagian atas tokoh pertama, duduk bersila dengan sikap tangan Abhayamudra.



Arca Kepala Budha

Arca kepala Budha ini digunakan sebagai perlengkapan ibadah pada upacara keagamaan umat Budha.

No. Invent.:

Asal: Batu Jaya, Karawang


Arca Siwa Mahadewa

Laksana (ciri): Ardhacandrakapala (bulan sabit di bawah sebuah tengkorak, yang terdapat pada mahkota jatamakuta); mata ketiga di dahi; upawita ular naga; cawat kulit harimau yang dinyatakan dengan lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya; tangannya empat, kanan atas memegang aksamala (tasbih), tangan kanan terputus sebatas pergelangan tangan, tangan kiri atas memegang camara (penghalau lalat), dan tangan kiri bawah terputus sebatas pergelangan tangan. Di bagian belakang kepala terdapat sirascakra yang menandakan dia sebagai dewa.


Arca Brahma

Brahma adalah Dewa pencipta, ia dipandang sebagai salah satu sebutan Tuhan dalam konsep Agama Hindu bergelar sebagai Dewa pencipta. Berkepala empat pada tiap penjuru mata angin, mengenakan mahkota agung jatamakuta bertangan empat.

No. Invent.: 04.920

Asal:



Arca Nandi

Nandi atau sapi jantan dalam miros Hindu merupakan kendaraan atau wahana tunggangan Dewa Siwa diperkirakan peninggalan masa Hindu-Budha yang berkembang di Jawa Barat pada abad ke-4 hingga ke-14 M.

No. Invent.: 04.248 dan 04.249

Asal: Sagalaherang Subang



YONI

Yoni melambangkan Dewa Parwati (simbol kesuburan). Bila lingga dan yoni dipersatukan merupakan simbol kekuatan. Lingga dan Yoni digunakan sebagai salah satu perlengkapan upacara dalam agama Hindu.

No. Invent.: 04.896

Asal: Sukabumi



Arca Megalithik (replika)

Arca ini diperkirakan sebagai tokoh leluhur atau nenek moyang peninggalan masa Megalitik.

No. Invent.: 04.894

Asal: Citatah, Padalarang, Kab. Bandung


Arca Nenek Moyang

Arca ini merupakan perwujudan nenek moyang, dipergunakan sebagai media pemujaan

No. Invent.: 04.175

Asal: Ciwidey


Arca Nenek Moyang

Arca ini merupakan perwujudan nenek moyang, digunakan sebagai media pemujaan terhadap nenek moyang.

No. Invent.:

Asal: Cirebon


Arca Gajah Tipe Megalithik

Arca ini digunakan sebagai salah satu media pemujaan masa Megalithik.

No. Invent.: 04.904

Asal: Pejambon Lor Cirebon


Lumpang Batu

Terbuat dari batu andesit fungsinya untuk menumbuk biji-bijian tanaman sebagai obat-obatan. Dipergunakan pada masa prasejarah khususnya pada masa perundagian.

No. Invent.: 04.339

Asal: Bandung


Lumbung Batu

Lumbung batu berbentuk menyerupai leuit berfungsi sebagai upacara kesuburan pada masyarakat masa prasejarah (megalitik).

No. Invent.: 04.895

Asal: Sukabumi



Arca Ganesha

Arca dengan sikap duduk diatas tapik berbentuk bulat dengan sikap duduk ardhaparyankasana (sikap duduk dengan posisi satu kaki bersila dan lainnya dilipat keatas) pada bagian atas kepalanya terdapat semacam tutup kepala, dengan rambut dibelah dua. Pada bagian dada terdapat upavita berupa tali polos. Dalam mitologi Hindu Ganseha adalah putra Dewa Siwa dengan Parwati. Tugas utama Ganesha adalah Dewa Ilmu Pengetahuan.

No. Invent.: 04.188

Asal: Karang Kamulyan, Ciamis


Arca Tipe Pajajaran (replika)

Berangka tahun 1263 Saka atau 1341 Masehi, ditulis dengan aksara Jawa Kuno. Diperkirakan arca ini penggambaran leluhur pada masa Megalithik.


Arca Wisnu Cibuaya

Arca bertangan empat, masing-masing memegang taksama. Tangan kanan belakang memegang cakra, tangan kirinya sangkha (siput). Tangan kanan depan memegang gada dan tangan kirinya kurang jelas. Masing-masing tangan memakai atribut gelang. Kepala arca Wisnu ini memakai mahkota yang disebut Kristamakuta dan dilengkapi kalung serta ikat pinggang. Dewa Wisnu ini sebagai dewa pemelihara biasanya berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat dan kesuburan.

No. Invent.: 04.329

Asal: Karawang


Momolo

Momolo biasa juga disebut mastaka merupakan pengunci atap yang melambangkan meru atau gunung, bermakna maha tinggi. Pada masa Hindu dipasang pada puncak bangunan suci. Setelah Islam berkembang, tradisi penggunaan momolo masih berlanjut di daerah Cirebon dan Banten untuk menghias atap bangunan masjid.

Asal: Majalengka dan Banten


Mahkota Ibu Padi


Mahkota dan gelang ini merupakan perhiasan yang dikenakan ibu padi (Dewi Sri) pada upacara “Mapag Sri” di Cikalong Tasikmalaya. Ketiga mahkota tersebut masing-masing menggambarkan (1) Raja, (2) Permaisuri, dan (3) Patih.

No. Invent.: 03.1443-146

Asal: Tasikmalaya


Jampana/ Tandu Garuda

Jampana adalah tandu untuk mengarak pengantin sunat pada masyarakat Cirebon pada abad ke-19-an, berjumlah dua buah, satu untuk laki-laki dan lainnya untuk perempuan. Jempana berhiaskan kepala burung (garuda). Berbada ular (naga), bersayap di bagian depan dan di bagian belakang ekor ular (naga) mencuat keatas. Pemakaian motif burung dan ular adalah pengaruh Hindu. Dalam mitologi Hindu, burung adalah lambang kekuasaan dan ular lambang kesuburan.

No. Invent.: 03.742.1 dan 03.742.2

Asal: Cirebon


Aksara Cacarakan, Bahasa Sunda Kuno

Aksara cacarakan bahasa Sunda kuno berkembang di Jawa Baat pada abad 15-16 M, pada awalnya digunakan untuk menuliskan bahasa sunda kuno, aksara Sunda kuno merupakan pekembangan dari aksara Pallawa yang mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah. Penggunaan aksara Sunda kuno dalam bentuk paling awal antara lain dijumpai pada prasasti-prasasti yang terdapat di Astana Gede, Kecamatan Kawaii, Kabupaten Ciamis, dan prasasti Kebantenan yang terdapat di Kabupaten Bekasi.

Pada umumnya masyarakat Jawa Barat hanya mengenak satu jenis yang disebut sebagai aksara Sunda. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa ada empat jenis aksara Sunda kuno, aksara Sunda Cacarakan, aksara Sunda Pegon, aksara Suna baku. Aksara Sunda Baku merupakan modifikasi aksara Suna Kuno yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda kontemporer.



Al Qur’an

Al-Qur’an ditulis tangan ini ditulis pada tahun 1860 M/1276 H. Media tulis yaitu kertas Eropa yang ditandai dengan watermark Propatria Eendract Maakt MAct dan Countermark VDL. Al – Qur’an ditulis tangan ini disalin dengan Khat Naskhi. Pada beberapa halaman terdapat iluminasi berbentuk menara sebagai tanda peralihan Juz.



Naskah Abdul Jaelani

Naskah beraksara pegon, berbahasa Sunda isinya menerangkan biografi Syeikh Abdul Qodir Jaelani termasuk pengalamannya sampai pergi ke Bagdad. Kepintaran dan wawasannya yang luas menjadikan beliau dipercaya masyarakat sebagai pemberi satan dan pendapat dalam meluruskan berbagai hal yang kurang baik.

No. Invent.: (tdk terbaca)

Asal: Bandung




Naskah Babad Galuh Imbanagar

Teks ditulis dengan aksara Latin berbahasa Sunda dengan media tulis kertas pabrik bergaris. Pada kalimat pembukaan dijelaskan bawah teks digubah oleh Woranatadikoesoemah dalam bentuk prosa. Teks menceritakan tentang kerajaan Galuh dimulai dari Ratu Bondan yang berdiam di Bojonggaluh selanjutnya menjadi Galuh dan kemudian menjadi Kabupaten Ciamis. Selain itu, diuraika nama-nama pejabat di Galuh yang memerintah sejak tahun 1830 sampai dengan 1870 lengkap dengan peta lokasi Karangmulyan yang konon menjadi jejak kerajaan Galuh.

No. Invent.: 07.107

Asal: Bandung



Naskah Babad Panjalu

Teks ditulis dengan aksara latin berbahasa Sunda, digubah dalam bentuk prosa. Isi teks menceritakan tentang asal muasal Satu Lengkong Panjalu Ciamis.

No. Invent.: 07.76

Asal: Cirebon




Coverage ini dilakukan berdasarkan izin dari pihak UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat (lembar disposisi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, nomor Ag. 659, tanggal 18 Oktober 2022 atas surat yang diajukan The Heritage Opera, nomor surat 1/18/10 pada tanggal 18 Oktober 2022).

17 views0 comments
bottom of page