• nuraini zakiyah

BUKIT SIGUNTANG, PUSAT KOSMOLOGI DI SRIWIJAYA DALAM KONSEP AGAMA BUDHA


Ilustrasi Bukit Siguntang

Ilustrasi ini menggambarkan Alea dan Dapunta Hyang-Raja Kerajaan Sriwijaya berdiri di bukit Siguntang. Alea and The Forgotten Empire (versi novel) dan The Artefact (versi webtoon) merupakan salah satu kisah fiksi sejarah yang ditulis dan dikemas dengan sangat menarik oleh Jasmine Cha. Novel dan webtoon ini mengisahkan seorang gadis indigo bernama Alea yang mengalami perjalanan lintas waktu ke masa lalu sejak menemukan sebuah cawan suci artefak peninggalan kerajaan Sriwijaya. Kisah Alea dan sang raja bukan hanya dihiasi oleh percik-percik asmara, namun juga dihadapkan dengan sebuah kekuatan mengerikan yang ingin membumihanguskan Sriwijaya. Alea dengan segenap kekuatan dan tekadnya berupaya membantu sang raja untuk menghadapi kekuatan jahat tersebut dan menyelamatkan Sriwijaya dari kehancuran.


Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim di Nusantara. Meskipun sebagian besar kehidupannya ada di laut baik untuk perang maupun niaga, namun para penguasa Sriwijaya juga memperhatikan segi keagamaan, yang diwujudkan dalam bentuk pembangunan rumah-rumah ibadah dan vihara untuk para bhiksu serta penataan kota menurut konsep penataan agama Budha.


Dalam agama Budha, ditetapkan konsep keseimbangan antara makro kosmos (alam semesta) dan mikro kosmos (dunia manusia). Menurut agama Budha, sebagai pusat jaga raya adalah Gunung Meru. Sebuah gunung tempat tinggal dewa-dewa dimana Indra bersemayam sebagai raja para dewa. Sedangkan manusia bertempat tinggal di Jambudwipa, sebuah benua yang terletak di sebelah selatan Gunung Meru.


Kota Sriwijaya yang dibangun oleh Dapunta Hyang pada tanggal 16 Juni 682 di Kota Palembang sekarang, melambangkan mikro kosmos. Tempat yang tertinggi di Palembang adalah Bukit Siguntang. Bukit inilah yang dianggap mikro kosmos. Manusia bertempat tinggal di sebelah selatan bukit di daerah tepian sungai Musi. Rumah-rumah ibadah ditempatkan di sebelah utara permukiman pada bidang tanah yang tinggi.


Sumber:https://arkenas.kemdikbud.go.id/contents/read/article/f4sphl_1510546081/dapunta-hyang-srijayanasa-sudah-lebih-dulu-mencanangkan-penanaman-pohon#gsc.tab=0

(diakses 21 Oktober 2022)


Meski hanya sebuah bukit kecil, Bukit Siguntang memiliki arti penting terkait dengan perannya di masa lalu terutama di masa Sriwijaya. Di bukit inilah ditemukan masterpiece arca Budha dari periode abad ke-6 sampai 7 Masehi. Tingginya hampir 3 meter. Di sekelilingnya berdiri beberapa bangunan stupa yang terbuat dari bata. Temuan lainnya adalah pinggan emas. Beberapa penelitian yang dilakukan di sekitar kaki Bukit Siguntang juga berhasil menemukan struktur bata. Diduga merupakan sisa pondasi bangunan para pengelola bangunan stupa tadi.


Sumber:Kemendikbud, Balitbang, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional



0 views0 comments